Kamis, 31 Maret 2011

KhutbahJumat yang Menarik Itu...
Sewaktumenjalanimasaremajasaya di Bekasi, sayalebihseringmencari masjid-masjid non-tradisional ketikasolatjumat.Alasannyasimpel, sayaagakmalasuntukmengikutikhutbah yang isinyaterlaludogmatis, tidakaktualdenganpermasalahanumat, atau pun khutbah-khutbah yang dilakukanhanyauntukmelengkapisolatjumat.Makabiasanya, setengah jam sebelumsholat, sayaberjalanataubersepedakuranglebihsatu kilometer menuju Masjid Alun-alunataubahkan di Islamic Center.Itu pun kadang-kadangsayamasihmenemukankhutbahdengancorakserupa, membuatmakmumnyatertidurpulas (termasuksaya).

Tertarikuntukmembuatbenangmerahpengalamanisisebuahkhutbah yang menarik, poin-poin yang sayapribadinotifikasi di antaranyaadalah:

Bahasa yang digunakantidakbanyakmenggunakanbahasaarab
Seringsayamenjumpaikhatib yang sebentar-sebentarmenggunakanbahasaarabdalamberdialog, padahaldiasedangtidakmenukilkanayat Qur’an. Entahapakahdiasedangmendemonstrasikankemampuannya (wallahu’alam) atauuntukmembiasakanpribadinyadenganbahasaarab. Satuhal yang pastibagisaya, halituhanyaakanmembuatmakmumtertidur. Yang makmumperlukanadalahsuatukajiancentangperenang, semakindiatidakmengertiarahpembicaraankhatibkarnabahasanya, semakincepatngantukakanmenyergapnya.

Singkat, padat!
Sayalangsung ilfeel jikamendapati jam 12.30 khatibbelumjugamenghabisikhutbahpertamanya. Pertama, pastikarenasayadideralapar (sayajarangmakansebelumsolat)dankedua, bagisaya it’s just too long. Terkecualiketikaada force majeur yang mengajakkesadaranmakmumnya (sholatgoib, sholatjenazah), makasebuahkhutbah yang baiksebaiknyatidakmelebihisetengah jam.

Actual but out of the box
Hal inibiasanyamenjadi main point buatkhatibuntukmenarikperhatianmakmumnya. Dan sayayakinketikaadaacaratahunansemacamtahunbaru, haji, isra’ miraj, mayoritaskhatibakanmengambiltema yang sama. Bagisayapribadi, it’s predictable. Buatapakitadatangkesebuahmajlis yang kitasudahbisamenebakisiceramahnya? Akan menarikjikaseorangkhatibmembuatsatutema yang out of the box then di ujungkhutbahpertamabarudikaitkandenganacara-acaratersebut.For me, itumenunjukkankecerdasankhatib.

Menyesuaikandenganlatarbelakangmakmum
Duaminggulalusayaterpukaudenganisikhutbahjumat di gedungtempatsayabekerja. Ada beberapahal yang sayaliatmengapamayoritasmatamakmumtertujukepadanya: pembawaannya yang tegas, kritis, dansangat clear. Tapipoinkeberhasilanutama sang khotibadalahbeliaumembahastopik `atasnamaprofesionalisme` untukmakmum yang notabeneadalahkaryawanPT.Telkom, Indosat, Delloite, Samsung danmasihbanyaklainnya. Mengena?Jelas! Pembahasantentangkebiasaanmaterialistikmasyarakat Jakarta tentangpekerjaannya, sayapastikanmenyentilbanyakmakmumnya.Alhasil, ketika sang khatibmenyelesaikankhutbahnya, banyakmakmum yang terseretpikirannyatentangpolakerjamerekaselamaini.

Tidak self-sentris
Kadangsayasukakesaldenganpenceramah yang talking about himself ataugolongannya, inisebenarnyaceramahataukampanyesih? Dan sayayakinbanyakmakmum yang kesalkalauinticeramahtidakbisamemenuhiekspektasimereka, mendapatkanpencerahanataupemahamanbaruuntukkehidupanmerekasatuminggukedepan. So bagikhatib yang menjadikanmimbarsebagai arena kampanye, kelautaja.

Begitulahpengalamansayamengikutiratusansholatjumat di berbagaikota yang pernahsayasinggahi. Sangatsubjektifkawan, makakalauadadiskusisetelahmembacatulisanini, sayaakansangatsenangkarenanya.




iswadi bin hasan ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar